Monday, March 20, 2017


Putra beliau menyebutnya sebagai 'jembatan'. “Begitulah nasib jembatan, selalu akan diinjak-injak dari dua arah yang berbeda,” paparnya.


This is not my scene.
Saya berdiri di hadapan karangan-karangan bunga yang berdiri di sepanjang sisi masjid Al-Hikam. Malam semakin menggelap, dan rintik-rintik hujan tiba-tiba turun semakin dahsyat. Dari masjid terdengar suara-suara serempak, Yasinan. Saya dan tiga teman bergegas menyebrangi lapangan sebelah masjid, menuju sebuah rumah yang masih terang-benderang. Sebuah tenda terpal terpasung di halaman, menaungi tamu-tamu yang memenuhi kursi-kursinya.

Hari itu pak Kyai berpulang.
Tak ada satupun dari kami yang mengenal baik almarhum pak Kyai, pernah berhadapan langsung pun tidak. Paling sekelebatan saja pernah berpapasan. Tapi dengan rumahnya, kami tidak terlalu asing lagi. Sudah berapa pekan kami habiskan Sabtu pagi kami di ruang depannya? Ruang depan yang tidak ada kursinya, hanya dua gelaran karpet dengan tumpukan kitab dan mikrofon di salah satu ujungnya. Kadang, ditemani tumpukan rebana sehabis latihan para santri malamnya.

As I said, this is not my scene.
Mimpi apa saya bisa bertakziah ke rumah keluarga seorang Kyai. Saya siapa? Santri saja pun bukan. Ibadah masih celemotan. Ilmu agama bahkan sangat jauh dari hafalan, apalagi dari kesadaran. Apalagi, seorang Kyai NU- keluarga saya 'kan dominan berafiliasi Muhammadiyah. Konon menurut guru sejarah dan ahli peradaban ustadz Alwi Alatas, beda keduanya sangat jelas: “Muhammadiyah, Persis, dan yang lainnya yang termasuk gerakan Reformis biasanya suka menjawab persoalan. Tapi, biasanya dasar untuk menjawab persoalan-persoalan itu tidak terlalu kuat dari ilmu-ilmu Islam, baik fiqh maupun aqidah, apalagi yang berbasis turats (bacaan kitab, ed.), tidak seperti NU.” Lha, saya jelas tidak kuat- baik dalam menjawab persoalan, maupun dalam ilmu-ilmu tersebut.

Jadi, di mana posisi saya sesungguhnya?

Saya tidak tahu persis, tapi teman-teman sudah mulai mendorong saya masuk ke dalam rumah. Saya ragu, tertegun di hadapan barisan sepatu dan sandal sambil celingak-celinguk ke dalam. Tidak ada sosok yang bisa saya kenali di dalam rumah yang sekarang penuh itu. Tapi teman-teman mendesak lagi. “Ayo, cari ustadz Yusron,” kata mereka.


Yusron tentu saja adalah nama yang sangat asing dalam dunia politik pak Kyai, dan memang telah dibuatnya begitu. “Yusron tidak boleh masuk politik,” klaim guru kami itu suatu saat ketika kami belajar. Putra pak Kyai itu memang sudah diwanti-wanti sejak lama. Konon, karena menurut beliau, untuk masuk ke kancah politik, dibutuhkan seseorang yang benar-benar kuat.

Tentu saja ustadz Yusron bukan orang yang lemah. Ia kuat mendengar bacaan kitab kami yang belepotan, bahkan berjam-jam lamanya. Tidak ada kesalahan tanda baca yang luput dari telinganya. Bahkan ketika bacaannya benar, ia selalu mengecek apakah kami benar-benar tahu alasan teori bacaannya, ataukah kami sekadar main tebak saja (saya sering kena).

Belum lagi, ketika akhirnya sudah terbaca dengan benar, ia harus membantu mengartikan dan menjelaskan maknanya- hampir selalu di luar kepala, terkadang saja memakai bantuan kamus atau kitab. Padahal, biasanya ia mengajar disambi menggendong anaknya yang masih balita. Warbiyasah, kalau kata anak gaul Jakarta. “Kata Abah, saya memang lebih baik mengajar saja,” ceritanya lagi.

Lama-lama, nama 'Abah' menjadi tidak asing lagi di telinga kami. Ngaji-ngaji kami yang semakin menyusut anggotanya menjadi semakin banyak diwarnai cerita mengenai sosok 'Abah'- yang, tentu saja, adalah almarhum pak Kyai. Kehidupan keluarganya yang sangat sederhana di awal merintis karir, meskipun di tengah dunia politik. Kesempatan untuk mendapatkan harta berlimpah yang ditolaknya. Optimisnya beliau dalam mempertahankan kehidupan pondok bebas biaya untuk para santri program hafidz-nya.


Seperti yang sudah saya duga, bahkan ketika kami sampai ke ruangan utama dalam rumah itu, tidak ada yang mengenali kami dan tidak ada pula yang kami kenali. Akhirnya kami berdiri salah tingkah saja di tengah ruangan sampai seorang perempuan berjilbab panjang menghampiri kami dan mempersilahkan kami untuk duduk. “Kami murid ustadz Yusron,” serentak kami mengenalkan diri.

Oh, Yusron, sepertinya di dalam,” jawab perempuan itu, “Mungkin sedang istirahat, karena tadi sepertinya capek sekali,” katanya lagi, lantas menghilang. Sudah kuduga pula, pikir saya sambil terduduk, mengambil air dalam kemasan gelas. “Kita tidak usah lama-lama, ya,” saya berkata pada teman-teman lainnya.

Mereka tampak sedikit kecewa. Saya terheran-heran. Di antara mereka, saya yang masih paling sering datang mengaji (teman lain yang lebih rajin datang sudah hadir di pemakaman beliau siang tadi), tapi mereka tampak jauh lebih berharap untuk bertemu dengan ustadz kami. Bahkan, yang awalnya mengajak takziah pun bukan saya duluan. Murid macam apa saya ini.


Dulu, awalnya saya memang kurang menyukai kelas ustadz Yusron. Sepertinya karena dulu kelas awal kami bersamanya adalah kelas teori, yang penuh dengan penjelasan panjang dan mencatat-catat saja. Sementara saya memang punya bakat sumbu pendek: susah bersabar. Tapi, saya suka dengan gaya ujiannya. Pertanyaannya tidak banyak, namun seringkali singkat dan menggelitik. Seperti misalnya, bolehkah menjadikan anggota tubuh hewan yang putus ketika masih hidup sebagai gantungan kunci?1 Atau, sah-kah shalat seseorang yang mengenakan baju hasil curian?2

Namun titik balik rasa hormat saya kepada beliau tentu saja, adalah ketika kami sudah mulai ditugaskan untuk membaca kitab. Menurut saya, apa yang ia lakukan sebenarnya adalah hal yang riskan. Selama berbulan-bulan bacaan kitab (gundul) kami selalu dituntun olehnya. Tapi suatu pekan, ia meminta kami melakukannya sendiri. Artinya, kami secara mandiri harus mencari rumusan tanda baca yang benar lalu mengartikannya pula. Resikonya tentu saja adalah kami gagal total melakukannya.

Nyatanya, tidak juga. Karena kepercayaannya atas kami, somehow kami berhasil, ya, mungkin 20-50% dari total tugas kami. Kami sendiri terkejut dengan hasilnya. Tiba-tiba ia terduduk sambil tersenyum, kepalanya sedikit tertunduk. “Ketika dalam setahun anda sudah bisa baca kitab, dari sebelumnya nol, itu artinya selama setahun ini kita sudah ngapa-ngapain,” ia berkata pelan.

Bukan hanya itu saja, ia pun dengan tepat bisa memberi penilaian atas usaha membaca kami; “Anda sepertinya punya bakat dalam bidang bahasa,” ujarnya pada salah satu murid. Memang benar, teman kami itu suka, dan cepat sekali belajar bermacam bahasa.

Saya rasa, benar-benar tidak salah almarhum Abah itu membaca bakat putranya itu dulu.


Ketika awal-awal saya mulai mengikuti kelas di Al-Hikam, saya benar-benar oblivious to the extent of the institution. Dan mungkin karena saya kurang nasionalis, tidak terdidik untuk menghormati ulama- ditambah lagi masa pencalonan almarhum Abah sebagai seorang wakil presiden merupakan masa sejarah yang sekip atau luput dari kepala saya karena tidak sedang berada di Indonesia- nama Hasyim Muzadi tidak banyak berarti bagi saya. It was only vaguely familiar in the back of my mind. Hanya ibu saya yang menunjukkan sedikit reaksi, “Oh, yang pernah mau jadi wakil presidennya Megawati itu?”

Seperti yang ustadz Yusron bilang, ayahnya seringkali menjadi 'jembatan'. Terutama antara kalangan Islam dan yang kurang simpati dengan Islam. Kecerdasan Abah Hasyim yang diakui, memang dalam hal komunikasi. “Abah kenal banyak orang,” begitu dijelaskan kepada kami. Dan ketika kami bertakziah pun, kami menyaksikan manusia dari berbagai kalangan. Dari yang sarungan sampai yang gondrongan. Alhamdulillah, ternyata Abah memang bisa diterima oleh banyak pihak,” kata perempuan berjilbab panjang yang menyambut kami.

Kemampuan berkomunikasi ini menjadi aset terbaiknya selama kiprah politiknya, sekaligus juga, saya rasa, kemampuan yang akhirnya membuatnya diklaim oleh banyak pihak. Membaca berita-berita wafatnya beliau, saya mendapatinya diklaim sebagai seorang 'pluralis' (dalam artian yang populer dan penuh dengan political correctness) oleh beberapa media, sementara media lain bersikeras bahwa beliau selalu menegakkan ajaran Islam yang murni.

Bagi saya yang tidak terlalu ingin ricuh mengenai masalah politik, hal itu sederhana saja. Apabila perlu mengetahui jiwa seseorang yang sesungguhnya, coba lihat juga keluarganya. Bagaimana orang itu merawat dan mendidik mereka.

Dan apa yang saya temukan sejauh ini, adalah: lurus.


Ketika kami masih asyik mengobrol dengan perempuan berjilbab panjang itu, ustadz Yusron muncul keluar dari kamar utama, jalannya tertatih menuju ruang depan. Kami segera berpamitan, lantas menyusulnya. Wajahnya tampak letih, dan gerak-geriknya tidak selincah biasanya, tapi ia ceria seperti biasanya ketika menyambut kami, seperti halnya menyambut tamu-tamu lainnya.

“Saya mohon maaf, beberapa minggu terakhir kemarin tidak bisa mengajar. Saya diminta oleh Abah untuk menemani beliau di Malang. Saya sempat bilang ke Abah kalau saya ada tanggungan mengajar. Tapi Abah bilang, kapan lagi (menemaninya, ed.),” ia menceritakan.

Lidah saya kelu. Bagaimana bisa seorang guru masih lebih mengedepankan tanggung jawab atas murid-muridnya, dibandingkan orang tuanya? Mungkin masih mending kalau guru itu dibayar melimpah (beliau tidak). Mungkin juga masih mending kalau kami murid-murid yang super cerdas dan super semangat (kami tidak).

Ustadz Yusron masih bercerita terus. “Ketika Abah meninggal tadi, kami keluarganya saling berlomba menutup mulut- untuk tidak menangis, untuk tidak menunjukkan ketidakikhlasan. In syaa Allah kami sekeluarga sudah ikhlas atas kepergian Abah.”


Meskipun sakit dan dirawat inap, pak Kyai bersikeras untuk mengawasi langsung santri-santrinya belajar membaca kitab Al-Hikam. "Karena kalau tidak benar-benar paham, bisa salah mengartikan maksudnya," jelas putra beliau. Jadilah santri dari Depok dibawa naik bis ke Malang untuk belajar langsung di hadapan beliau.


Telah berpulang seorang ulama, seorang figur nyata penegak Islam. Ia memang bukan guru kami. Namun ia adalah ayah dan guru pertama dari guru kami. Maka, mungkin bolehlah kami menyatakan beliau juga sebagai guru kami.


1 Jawaban singkatnya: boleh, asal tidak ikut dibawa ketika shalat, karena ia adalah bangkai, dan bangkai adalah benda najis (dan benda najis membatalkan kegiatan ibadah). Akan tetapi, demi berhati-hati, lebih baik dihindari.
2 Jawaban singkatnya: menurut penilaian sebagian besar 'ulama, shalatnya tetap sah selama terpenuhi syarat-syarat sah-nya, namun ia berdosa atas tindakan mencurinya. Namun, apakah pantas sekiranya seseorang menghadap Tuhan dengan pakaian yang bukan miliknya?
Untuk jawaban yang lebih detail, silahkan ikut mengaji bersama kami...
“Telah Berpulang Guru Kami”
1:23 AM

“Telah Berpulang Guru Kami”

Friday, December 30, 2016


Saya ingat awal tahun 2016, setidaknya di dunia pop, dimulai dengan dua orang keturunan Muslim beradegan seketiduran dalam sebuah video klip musik. Lagunya, entahlah- saya merasa cukup mendengarnya sekali lagi saja. Belum lagi liriknya yang- saya beharap orangtua saya tak membacanya. Namun rupanya produk itu terus di-blow up di mainstream media (MSM), menjadi playlist di mana-mana dan dua orang pemerannya menjadi media darling sepanjang tahun.

Sudah pasti ada orang-orang yang menganggap hal tersebut sebagai lompatan besar bagi kaum Muslim yang selama ini agak tersisihkan identitasnya dari dunia kepopuleran. Namun bagi saya, kejadian itu seperti tamparan. Ini cermin generasi kalian sekarang, coba, apa bedanya dengan generasi Barat kami? Video klip itu seolah berkata.

Tapi di awal tahun itu, saya tidak sempat memikirkannya lebih jauh karena harus mengambil kereta api ke stasiun Senen melalui jalur yang tidak melewati Sarinah- karena baru saja ada bom yang diledakkan di sana.


Tahun ini jelas umat Muslim semakin (di)muncul(kan) di MSM. Selain karena jumlahnya disadari semakin banyak, sehingga tidak bisa diabaikan lagi keberadaannya, juga karena dunia semakin haus mencari penyeimbang keganasan ISIS di Timur Tengah (setelah bom di Jakarta, menyusul di Brussels dan Bastille).

Berita-berita terkait Muslim dan Islam semakin laku dan menaikkan traffic berita, karena dua hal utama: 1) audiens Muslim di seluruh dunia yang semakin melek teknologi terus mencari bahan-bahan baru untuk menjustifikasi posisi mereka di dunia, baik nyata maupun maya, 2) dilegalkannya pernikahan sesama jenis di sejumlah negara bagian AS di akhir tahun 2015 semakin menguatkan kampanye untuk 'menghargai perbedaan' (embracing diversity) dalam berbagai bentuknya. Begitu besar potensi pemberitaan mengenai kaum Muslim, hingga website hip hip hore seperti Buzzfeed pun berlomba membuat konten yang berkaitan orang-orang Muslim. Figur-figur yang menampakkan sisi 'moderat' Islam, atau setidaknya tidak bercadar dan tidak berjenggot lebat, mulai bermunculan di mana-mana. Mulai dari Sadiq Khan, walikota London yang baru, model Playboy berjilbab, hingga jurnalis-jurnalis Muslim Amerika yang semakin hari harus berhadapan dengan retorika Trump yang kasar.


Ah, ya. Pemilu AS 2016. Di tengah kekacauan krisis minyak dunia, skenario kampanye kedua calon benar-benar memanfaatkan suasana dengan baik. Bedanya, Trump bermain dengan kekhawatiran orang-orang yang tak siap menghadapi berbagai perubahan besar di dunia. Sementara Hillary menari di atas optimisme orang-orang yang selalu menginginkan perubahan 'dari sistem lama' (ironisnya, ia berasal dari 'sistem' itu juga- tapi ia perempuan, jadi beda!), apapun itu bentuknya.

Umat Muslim kembali terjepit di antara permainan kedua calon ini. Menyetujui Trump berarti bunuh diri, meskipun mungkin akan menyelamatkan 'kehidupan konservatif' atau terhindar dari keterpurukan yang lebih jauh dalam liberalisme. Sementara mengikuti Hillary berarti juga berdamai dengan kelompok-kelompok 'minoritas tertindas' lainnya, tidak terkecuali para LGBT.

Menurut saya, kedua calon sebenarnya sama saja. Mereka, dan MSM, masih menggunakan umat Muslim sekadar sebagai pasar, sebagai bilangan kuantitas yang akan menaikkan jumlah vote terhadap mereka. AS adalah negara polisi yang terlalu eman untuk dilepaskan bagi pihak-pihak yang memiliki saham di dalamnya. Yang sering tidak secara tegas dinyatakan adalah, berapa persen saham Trump sekarang bersarang di negara-negara dunia ketiga, yang sedang terengah-engah menyusul kebangkitan Cina.

Timur Tengah bisa dibilang sudah final bagi AS. Tinggal cuci tangan dan biarkan Eropa yang berkaitan dengan duka-derita korbannya. Namun ganjalan yang masih perlu diselesaikan tentu saja adalah Turki. Dari sini sebenarnya bisa dilihat juga, bagaimana sikap muka dua MSM terhadap dunia Islam. Jelang percobaan kudeta di Turki, dan beberapa waktu setelahnya, pemberitaan dan wacana yang dibentuk atas Erdogan tidak lebih baik dari sebelumnya. Malah, ia disandingkan dengan Jong Un, Putin dan Trump sebagai 'strongmen'- definisinya mendekati 'rezim' atau 'diktator'- sebuah antitesis baru terhadap demokrasi dan liberalisme Barat modern.

Wacana 'strongmen' dan kecenderungan terhadap tindakan keras ini rupanya dilanjutkan hingga peristiwa 411 di Indonesia. Reaksi yang tidak diperkirakan ini membawa MSM untuk mengobral istilah 'hardliners' bagi penggerak massa utama, FPI, demi mensimplifikasi penjelasan masalahnya. Sedikit sekali yang berusaha mengulas asal-usul konflik yang sebenarnya mengendap sudah lama di Jakarta. Akibatnya, seolah muncul kesan bahwa 'ekstremisme' mulai bermunculan di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, rentetan peristiwa ini kemudian diletupkan dengan peristiwa menggelikan bom panci dan timbangan.


Yang paling ramai, tentu saja adalah pegiat sosial media di berbagai belahan dunia. Energi masyarakat lebih banyak terkuras untuk membagikan apa yang mereka terima dan bertengkar mengenainya daripada menelusuri asal-usul dan akar masalahnya. Ini membuktikan satu hal penting: Mark Zuckerberg (Facebook, Whatsapp, Instagram - dan kapan Snapchat?), berhasil. Sosial media bukan lagi 'mainan'. Semua MSM boleh jadi dimiliki pengusaha kaya dan punya pamor dan nama-nama gemilang. Namun dunia sosial media dalam segala kemurah-meriahannya, adalah raja dari segala raja. Maka jangan heran, ketika ada yang bilang, Facebook memprediksi hasil pemilu AS secara lebih akurat daripada survei manapun.

Formula penting yang menurut saya berhasil di tahun 2016 ini adalah:

(on-screen) personality + emotional connection = followers

Mulai dari Trump, Taylor Swift (cewek sukses yang tak kunjung juga bertemu jodohnya) hingga Awkarin (kenapa juga dia muncul di tulisan sini?) menggunakan formula yang sama. Dan followers, atau lebih tepatnya, representasi kepala manusia, memang menjadi hal yang paling utama di tahun ini. Selain bisa di-monetize, mereka juga adalah lahan investasi bagi ide-ide dan pemikiran dari para figur. Boleh jadi tidak langsung, namun dalam beberapa tahun mendatang, barulah akan terasa akibatnya.


Di tengah seluruh kekacauan ini, kalau boleh saya meninggalkan sedikit opini, saya paling ngiri terhadap para ningrat Inggris. Royal family Britania Raya itu, lho. Sepanjang tahun senyum mereka sama, lambaian tangan mereka sama, dandanan mereka juga sama. Ada Brexit, cucu baru, Pangeran William semakin botak, ibu Ratu agak salah kostum, tetap woles.

Maksud saya, kalaupun merasa rusuh dengan semuanya, ada baiknya jangan sampai membuat orang lain merasa rusuh juga. Lebih baik banyak bersikap dan berbuat daripada berteriak-teriak. Berkumpul secara nyata dengan orang-orang yang tepat. Membahas wacana demi wacana pada tempatnya. Berpikir lebih teliti dan lebih dalam sebelum mengeluarkan cap jempol dan meninggalkan hatimu di sebuah tempat.

Because, contrary to what the news is saying- whatever you do, whatever your thoughts- these days, they count.

Mengakhiri 2016 - Lebih Serius Sedikit
4:42 PM

Mengakhiri 2016 - Lebih Serius Sedikit


Ada semacam tuntutan yang sedikit lebih mendesak akhir tahun ini. Pertengahan 2017 nanti, seharusnya menjadi akhir 'kontrak' saya dengan Jakarta. Bukan kontrak formal, tentu saja. Melainkan kontrak pribadi saja yang bermula dari keinginan saya untuk tidak hidup terlalu lama di Jakarta. Mungkin memang begini ruwetnya menjadi seorang third-culture kid, yang mudah tidak betah hidup di mana-mana. Tapi, habis ini mau ke mana?

Ada seribu kemungkinan di depan mata. Namun dalam kondisi ini, saya tahu, ini bukan masalah banyaknya kesempatan. Saya yang seharusnya lebih dewasa, merasa harus mulai berani membuat pilihan, sembari berusaha agar angin takdir bersinggungan dengan semua niatan ini- dengan segala resikonya. Intinya, saya harus lebih mikir dan tidak asal semau gue untuk hal yang satu ini.

Rasanya sudah lama sekali sejak saya pertama menginjakkan kaki di Jakarta. Teman tempat saya awal menginap sekarang sudah punya anak sendiri. Jalan MRT sudah membentang di dekat tempat saya bekerja, tak jauh dari destinasi akhir trayek pertama. Saya sudah hampir tidak pernah lagi naik Metromini dan Kopaja, gara-gara semakin banyak ojek online dan lebih suka angkot-angkot yang lebih kecil perawakannya, walau lebih mahal tarifnya. Koleksi buku saya di kamar, sudah mulai tumpah ruah, dan sepertinya saya sudah tidak boleh membeli buku lagi untuk setahun ke depan (impossible!).

Tadi pagi seorang teman bercerita: ada teman kami yang doanya di-ijabah, plek sesuai dengan harapannya. "Kamu jangan putus harapan," ia mengingatkan saya. Ceritanya itu terus terngiang-ngiang dalam kepala saya sepanjang hari. Melesakkan rasa pahit dalam dada: kapan terakhir kali kamu berdoa sepuasnya?


Rasanya sudah lama sekali sejak saya ditugaskan memegang proyek skala lumayan di Surabaya. Jam kerja yang tidak menentu banyak membuat saya lupa rutinitas berkehidupan yang benar. Sekali, dua kali saya masih ingat cita-cita dan ingat untuk *benar-benar* berdoa. Lama-lama, bahkan setelah tidak memegang proyek, saya masih ketagihan adrenalin dan semangat kerja yang meluap-luap. Saya mengambil proyek sampingan. Saya mengambil kelas-kelas kuliah tambahan. Saya terlibat dalam diskusi-diskusi komunitas. Saya membantu-bantu di media umat Islam. Ketika seorang teman mengajak berdiskusi soal IELTS, dengan pahit saya berkelakar, "Itu makanan apa?"

Namun, di masa akhir tahun yang mulai sepi ini, ibarat orang habis ngobat, semua high itu dengan tiba-tiba merosot menjadi hangover yang luar biasa. Saya merasa tenggelam di tengah-tengah semua hal yang tahun ini sudah saya lakukan, dan terus jatuh ke tempat yang semakin dalam. "Siapa kamu?" Dinding-dinding sepanjang perjalanan menurun itu bergema. "Apa peranmu di sini, saat ini juga?"


Ada banyak orang yang bisa dengan mudah mendefinisikan diri mereka sendiri. "Aku arsitek," kata mereka. Atau, "Aku guru," dan sebagainya. Tapi di tahun ke-25 ini pun saya masih susah melakukannya. Dulu ketika mahasiswa saya terjebak antara 'mahasiswa arsitek' dan 'jurnalis'. Dan tahun ini saya benar-benar sekali lagi telah cross the line; menyebrangi batas-batas definisi identitas itu lagi: 'arsitek', 'murid/santri', 'translator', 'tukang sketsa', 'penjual buku', atau apa? 

Tidak bisa dipungkiri, bahwa Jakarta memang sangat mendukung kehidupan multi-facet ini. Sangat mudah bagi seseorang untuk berganti-ganti, menambah atau mengurangi peran setiap hari sesuai dengan apa yang diinginkannya. Ini sekaligus menjadi daya tarik terbesar kota Jakarta; kesempatan yang luar biasa banyaknya. Dan sedihnya, saya masih menjadi candu atasnya.


Saya kadang membayangkan betapa lelahnya teman-teman yang berusaha mengikuti perjalanan hidup saya saat ini (tidak banyak sih sebenarnya). Saya pun seringkali lelah bila harus menjelaskan, apa saja yang sedang saya geluti saat ini, dan kenapa. Mungkin karena itu saya tidak terlalu suka menjelaskan berbagai printhilan hal mengenai diri saya sendiri. Biarkanlah anda yang mendefinisikan saya sesuai dengan apa yang anda lihat dan anda suka. 

Ini membuat saya teringat sebuah film yang belum lama ini dirilis, berjudul Complete Unknown. Tokoh utamanya seorang wanita yang selalu berganti identitas setiap kali pindah kota. Tentu saja karena itu film, ia bisa berganti-ganti kehidupan dari seorang hippie menjadi seorang guru, dokter bedah, asisten pesulap, ahli biologi - dan ia melakukan semuanya dengan gemilang. Sehingga, orang-orang di tiap kota pun mengenalnya dengan 'wajah' yang berbeda pula.

Tentu saya tidak se-ekstrim itu. Tapi sedikit yang saya ketahui, ada beberapa bakat kehidupan saya yang mirip dengannya. Saya kerap merasa perlu berpindah demi membuka lembaran baru dalam hidup dan 'menanggalkan kulit' kehidupan yang lama. Saya terlampau mudah meninggalkan tempat-tempat dan orang-orang yang saya kenal, meskipun kenangan-kenangannya akan terus menghantui sepanjang hidup.


Dulu seorang dosen pernah bertanya, saya ingin jadi apa setelah lulus kelak? Saya menjawab, saya ingin menjadi penjelajah ke berbagai tempat. Dengan nada sedikit sangsi dosen itu menjawab kembali, "Kira-kira pekerjaan apa yang bisa membuatmu melakukan hal seperti itu?"
Saya terdiam. Kenapa konvensional sekali cara berpikirnya, dengan sedikit jengkel saya membatin. Dunia ini 'kan semakin cair- orang tidak perlu lagi memiliki profesi khusus, karena sekarang duduk di depan webcam saja bisa menghasilkan uang.

Tentu saja maksudnya baik: ia mengingatkan saya untuk berpikir lebih strategis dan tidak urakan saja. Ia tahu, saya bukan tipe yang bakal duduk saja di depan webcam, lantas apa yang akan saya lakukan? 

Hari ini, saya menjawab, saya belum siap memilih menjadi apa tepatnya (jadi rupanya saya mungkin belum se-dewasa yang saya kira). Saya akan melakukan semua yang saya bisa, dan mudah-mudahan beberapa hal baru juga.

Kalau orang lain saja frustrasi menghadapi diri saya, apalagi orang tua. Ibu yang biasa mendebat pilihan-pilihan saya, tahun ini hanya banyak-banyak berpesan, "Sudahlah, stay dulu saja di Jakarta." Padahal, kaki saya sudah gatal sekali ingin pulang (ya, terutama sekali saya ingin pulang, karena setidaknya bisa mengurangi beban hidup terlebih dahulu), dan melakukan hal-hal lain (jangan tanya apa saja, karena banyak hal yang tersimpan di pikiran).

Sebagai catatan yang cukup membahagiakan, tahun ini telah menjadi tahun yang super produktif bagi saya, Alhamdu lillaah. Saya berkecimpung dalam proyek-proyek yang tengah dibangun, mendapatkan koneksi yang lebih luas, memperbaiki hubungan dengan keluarga dan banyak teman; baru maupun lama. Saya pun belajar lebih banyak- terutama bahasa Arab, sejarah, ilmu hadits hingga filsafat. Guru-guru saya bertambah. Ada banyak keajaiban dan hikmah yang saya rasakan, yang tidak semua dapat dengan bebas diceritakan, terkait niat awal saya dahulu berpindah ke Jakarta. Puncaknya adalah ketika semua yang saya pelajari dalam dua tahun terakhir, yang awalnya nampak tidak berhubungan, mulai terangkai menjadi sebuah kerangka ide yang nampaknya bisa dikembangkan lebih luas.


Beberapa malam yang lalu, teman saya Nila sudah mulai menanyakan perihal rencana-rencana masa depan saya ini. "Apakah pertengahan 2017 kamu masih akan di Jakarta?"
Saya tidak tahu, jawab saya.
Dengan sedih ia berkata, "Satu per satu teman-temanku terbang..."
Saya terbahak, "Lha kamu sendiri, apa tidak merasa sudah jauh meninggalkan teman-temanmu di kampung halaman?"
Sepertinya dia bisa tertawa lagi setelahnya.


Life is a journey. And the people you meet during your travels, you only meet them once.


Mengakhiri 2016 - Quarter Life Crisis?
11:19 AM

Mengakhiri 2016 - Quarter Life Crisis?